Mengapa Regulasi Kalah oleh Imajinasi: Pelajaran dari Hukum Ketenagakerjaan dan Bahasa yang Mengubah Kenyataan
Hatched by فايز
Jun 12, 2026
8 min read
4 views
74%
Saat sebuah aturan gagal, masalahnya sering bukan hanya isi aturannya
Apa yang lebih menentukan nasib buruh: pasal-pasal dalam undang-undang, atau imajinasi politik yang melahirkan undang-undang itu? Pertanyaan ini terdengar abstrak, tetapi dampaknya sangat nyata. Sebuah regulasi bisa tampak rapi di atas kertas, lengkap dengan istilah efisiensi, kemudahan investasi, dan penataan ulang pasar tenaga kerja. Namun bagi pekerja, hasil akhirnya bisa berupa upah yang tidak cukup, kepastian kerja yang memudar, dan posisi tawar yang makin lemah.
Di sinilah letak paradoksnya: ketika hukum dirancang terutama untuk mempercepat modal, ia sering menganggap manusia sebagai variabel yang bisa disesuaikan kemudian. Padahal, kesejahteraan bukan produk sampingan dari investasi. Kesejahteraan adalah tujuan yang harus dipasang sejak awal, atau ia tidak akan muncul di akhir.
Kita sering berbicara seolah problem ketenagakerjaan adalah soal teknis: rumus upah, jenis kontrak, durasi cuti, atau mekanisme penegakan. Tetapi di balik semua itu ada persoalan yang lebih besar: siapa yang menjadi subjek utama hukum, dan siapa yang diposisikan sebagai alat? Begitu pertanyaan ini berubah, seluruh cara membaca regulasi juga berubah.
Hukum bukan hanya teks, melainkan mesin pembentuk kenyataan
Salah satu kesalahan umum dalam melihat kebijakan ketenagakerjaan adalah menganggap bahwa keberhasilan hukum diukur dari kelengkapan naskahnya. Jika pasal sudah ditulis, maka masalah dianggap selesai. Kenyataannya jauh berbeda. Hukum bekerja seperti rancangan arsitektur: ia tidak hanya mencatat kenyataan, tetapi membangun ruang tempat orang harus hidup.
Bayangkan sebuah pabrik yang dirancang dengan satu prinsip utama: mempercepat produksi. Di atas kertas, semuanya tampak efisien. Jalur material disingkat, ruang istirahat dipersempit, jam kerja disusun agar mesin tidak berhenti. Tetapi jika manusia di dalam pabrik itu kelelahan, sakit, dan kehilangan daya tawar, apa arti efisiensi tersebut? Produksi mungkin naik dalam jangka pendek, tetapi fondasi sosialnya rapuh.
Logika yang sama terjadi dalam hukum. Jika aturan dibuat terutama untuk memberi kepastian kepada investor, maka kepastian itu sering dibayar oleh ketidakpastian pekerja. Status kerja menjadi lebih lentur, perlindungan menjadi lebih tipis, dan beban risiko bergeser dari perusahaan ke individu. Pada titik itu, hukum tidak netral. Hukum sedang mengalokasikan risiko.
Hukum yang baik bukan hanya memudahkan transaksi, tetapi juga menentukan siapa yang menanggung kerugian ketika transaksi berjalan buruk.
Inilah sebabnya mengapa pembicaraan tentang ketenagakerjaan tidak bisa berhenti pada pertanyaan apakah ekonomi tumbuh. Pertanyaan yang lebih tajam adalah: siapa yang memanen pertumbuhan, dan siapa yang menanggung biayanya? Bila buruh terus berada dalam posisi subordinat, maka pertumbuhan hanya menjadi statistik, bukan kemajuan sosial.
Masalah inti bukan sekadar isi pasal, melainkan desain kekuasaan
Banyak orang mengira persoalan utama ada pada satu atau dua ketentuan spesifik, misalnya sistem pengupahan atau absennya pengaturan cuti panjang. Namun jika dilihat lebih dalam, itu hanyalah gejala dari sesuatu yang lebih mendasar: desain kekuasaan dalam proses pembentukan aturan.
Regulasi ketenagakerjaan yang timpang biasanya lahir dari asumsi bahwa pasar tahu yang terbaik, sementara pekerja tinggal menyesuaikan diri. Asumsi ini terdengar modern, tetapi sesungguhnya sangat tua. Ia mengubah ketidaksetaraan struktural menjadi seolah-olah keputusan individual. Jika upah rendah, maka pekerja dianggap kurang kompetitif. Jika kontrak menjadi tidak pasti, itu dianggap fleksibilitas. Jika perlindungan berkurang, itu disebut penyederhanaan.
Padahal, fleksibilitas bagi satu pihak sering berarti kerentanan bagi pihak lain. Dalam bahasa sederhana, ketika perusahaan diberi ruang lebih besar untuk menyesuaikan biaya, pekerja sering diberi ruang lebih kecil untuk menyesuaikan hidup. Anak sekolah, cicilan rumah, biaya kesehatan, dan kebutuhan keluarga tidak ikut menjadi fleksibel hanya karena regulasi diubah.
Di sini kita melihat sebuah pola yang sering luput: kebijakan pro-investasi tidak otomatis anti-pekerja, tetapi menjadi anti-pekerja ketika hanya satu pihak yang dirancang untuk menang dalam situasi sulit. Negara seharusnya menjadi penyeimbang. Jika yang terjadi justru penguatan posisi modal tanpa penguatan perlindungan, maka negara sedang memilih pihak, walau mungkin dengan bahasa teknokratis.
Contoh konkretnya mudah dibayangkan. Dua orang menyewa mobil dari perusahaan yang sama. Yang satu memperoleh asuransi penuh, yang lain menanggung seluruh risiko jika mobil rusak. Keduanya sama-sama disebut pelanggan, tetapi hak dan beban mereka tidak setara. Itulah yang terjadi ketika ketenagakerjaan dibingkai sebagai soal kemudahan usaha semata. Status formalnya bisa tampak adil, tetapi distribusi risikonya tidak.
Kita perlu membedakan tiga lapisan: teks, penegakan, dan imajinasi kebijakan
Untuk memahami mengapa sebuah regulasi bisa mengecewakan buruh meskipun tampak ambisius, kita perlu memakai kerangka tiga lapisan.
Lapisan pertama adalah teks. Ini mencakup pasal, definisi, prosedur, dan sanksi. Di lapisan ini, banyak perdebatan publik berhenti. Orang bertanya: apakah aturan A ada atau tidak, apakah pasal B diubah, apakah prosedur C lebih sederhana.
Lapisan kedua adalah penegakan. Sebagus apa pun teksnya, jika pengawasan lemah dan sanksi bisa dihindari, maka aturan tinggal simbol. Banyak keluhan buruh tidak berhenti pada apa yang tertulis, tetapi pada bagaimana aturan diterapkan secara selektif. Di lapisan ini, ketidakadilan sering muncul bukan karena ketiadaan hukum, melainkan karena hukum tidak bekerja sama kuatnya untuk semua pihak.
Lapisan ketiga adalah imajinasi kebijakan. Ini lapisan yang paling jarang dibicarakan, padahal paling menentukan. Imaginasi kebijakan menjawab pertanyaan: untuk siapa hukum dibuat, masalah siapa yang dianggap utama, dan masa depan seperti apa yang ingin dibangun. Jika imajinasi dasarnya adalah menarik modal terlebih dahulu, maka perlindungan pekerja akan selalu hadir belakangan, seperti cat finishing yang menutup retakan, bukan fondasi.
Ketiga lapisan ini menjelaskan mengapa sebuah kebijakan bisa gagal meningkatkan kesejahteraan walaupun terlihat progresif dari jauh. Teks bisa diperbarui, penegakan bisa diperbaiki, tetapi jika imajinasi dasarnya masih menempatkan buruh sebagai biaya dan bukan manusia, maka hasil akhirnya tetap timpang.
Kebijakan yang sehat tidak hanya menanyakan, “Bagaimana membuat investasi masuk?” tetapi juga, “Bagaimana membuat kehidupan kerja layak bertahan?”
Kerangka ini juga menjelaskan mengapa kritik buruh sering terdengar lebih dalam daripada sekadar keberatan atas satu pasal. Yang dipersoalkan bukan hanya detail teknis, melainkan arah moral dari seluruh proyek regulasi.
Mengapa cerita, perspektif, dan bentuk penyajian menentukan kebijakan
Di titik ini, ada pelajaran yang tampak jauh dari dunia hukum, tetapi justru sangat relevan: cara sebuah kisah dirancang menentukan cara orang memahami kenyataan. Dalam film yang kuat, penonton tidak hanya diberi informasi. Penonton diajak masuk ke struktur pengalaman, sehingga makna baru muncul bukan dari penjelasan langsung, melainkan dari penyusunan ulang perspektif.
Mengapa ini penting bagi kebijakan? Karena undang-undang juga bekerja seperti narasi. Ia memilih tokoh utama, menetapkan konflik, dan menyusun akhir cerita yang dianggap ideal. Jika tokoh utamanya adalah investor, maka buruh mudah menjadi latar belakang. Jika tokoh utamanya adalah pertumbuhan, maka kesejahteraan sosial menjadi subplot. Jika tokoh utamanya adalah efisiensi, maka perlindungan dianggap hambatan.
Inilah kekuatan dan sekaligus bahaya dari bahasa kebijakan. Bahasa dapat menciptakan kesan objektif, padahal sesungguhnya ia sedang memilih sudut pandang. Sebuah aturan bisa berbicara tentang penciptaan lapangan kerja, tetapi diam tentang kualitas pekerjaan. Ia bisa menjanjikan kemudahan berusaha, tetapi tidak menjawab bagaimana pekerja hidup di antara masa kontrak yang tidak pasti.
Ada pelajaran mendalam di sini: bentuk menentukan isi lebih sering daripada yang kita kira. Jika sebuah regulasi ditulis dalam kerangka bahwa prioritas utama adalah menarik pemodal, maka isi lain akan menyesuaikan diri. Dalam cara yang hampir tak terlihat, bahasa telah mengunci kemungkinan politik.
Analogi sederhana: jika sebuah kota hanya dirancang agar mobil cepat lewat, ia akan memiliki jalan lebar, lampu hijau panjang, dan akses parkir luas. Tetapi trotoar akan sempit, penyeberangan berbahaya, dan pejalan kaki dianggap pengganggu kelancaran. Begitu pula hukum ketenagakerjaan. Jika jalurnya dibangun untuk modal saja, manusia akan diperlakukan sebagai hambatan yang perlu diatur, bukan tujuan yang perlu dijaga.
Dari pro investasi ke pro martabat: pergeseran yang benar-benar dibutuhkan
Masalah paling penting bukan apakah suatu negara ingin menarik investasi. Hampir semua negara ingin itu. Masalahnya adalah logika apa yang digunakan untuk menariknya. Apakah investasi dipandang sebagai alat untuk memperluas martabat kerja, atau martabat kerja dikorbankan agar investasi datang lebih cepat?
Perbedaan ini bukan soal slogan, melainkan soal arsitektur kebijakan. Negara yang benar-benar pro pekerja tidak menolak investasi, tetapi menolak investasi yang tumbuh dengan memindahkan seluruh ketidakpastian ke pundak buruh. Ia memahami bahwa produktivitas jangka panjang datang dari pekerja yang sehat, aman, terlatih, dan punya kepastian hidup minimal. Dalam jangka panjang, perlindungan bukan biaya tambahan. Perlindungan adalah infrastruktur ekonomi.
Kita bisa memikirkan ini seperti kebun, bukan tambang. Tambang berorientasi pada ekstraksi secepat mungkin. Kebun berorientasi pada pemeliharaan agar hasil terus datang. Jika buruh diperlakukan seperti sumber daya yang bisa diperas saat dibutuhkan lalu disingkirkan saat mahal, maka ekonomi berjalan seperti tambang. Tetapi jika pekerja diperlakukan sebagai manusia yang perlu dipelihara, maka ekonomi bergerak seperti kebun: lebih lambat mungkin, tetapi lebih berkelanjutan.
Perubahan yang diperlukan karena itu bukan kosmetik, melainkan paradigma. Pertanyaannya bukan lagi, “Bagaimana memperlancar modal?” melainkan, “Bagaimana membuat pertumbuhan tunduk pada martabat manusia?” Jika pertanyaan kedua tidak dijawab, maka setiap keberhasilan ekonomi hanya memperlebar jurang antara angka dan kehidupan.
Ukuran keberhasilan kebijakan bukan seberapa cepat modal masuk, tetapi seberapa aman manusia hidup di dalam sistem yang dibangun untuk modal itu.
Key Takeaways
- Jangan menilai hukum hanya dari teksnya. Lihat juga siapa yang paling diuntungkan, siapa yang memikul risiko, dan bagaimana penegakannya bekerja di lapangan.
- Bedakan fleksibilitas dari kerentanan. Jika sebuah aturan memudahkan perusahaan menyesuaikan biaya tetapi membuat pekerja menanggung ketidakpastian, itu bukan keseimbangan, melainkan pemindahan beban.
- Periksa imajinasi di balik kebijakan. Tanyakan apakah aturan dirancang untuk investor terlebih dahulu, atau untuk martabat kerja terlebih dahulu.
- Anggap perlindungan sebagai infrastruktur ekonomi. Upah layak, kepastian kerja, dan penegakan hukum bukan penghambat pertumbuhan, melainkan fondasi pertumbuhan yang tahan lama.
- Ubah pertanyaan utama Anda. Bukan hanya “apakah investasi datang?”, tetapi juga “bagaimana hidup pekerja berubah setelah investasi datang?”
Penutup: yang perlu direbut kembali bukan hanya pasal, melainkan arah
Kita sering mengira perdebatan kebijakan adalah pertarungan tentang detail. Padahal, yang paling menentukan justru arah: apakah hukum bergerak untuk melayani manusia, atau manusia dipaksa menyesuaikan diri dengan hukum yang melayani modal. Begitu arah ini salah, bahkan aturan yang tampak modern bisa menghasilkan ketimpangan yang sangat tua.
Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukan apakah sebuah undang-undang berhasil menarik investor. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah undang-undang itu mampu menciptakan kehidupan kerja yang layak, aman, dan bermartabat. Jika tidak, maka kita tidak sedang membangun masa depan. Kita hanya sedang mempercepat ketimpangan dengan bahasa yang lebih halus.
Dan mungkin di situlah pelajaran paling pentingnya: sebuah negara tidak dinilai dari seberapa mudah ia membuat modal bergerak, tetapi dari seberapa serius ia melindungi manusia ketika modal bergerak terlalu cepat.
Sources
Hatch New Ideas with Glasp AI 🐣
Glasp AI allows you to hatch new ideas based on your curated content. Let's curate and create with Glasp AI :)
Start Hatching 🐣