Ketika Pembangunan Lupa Menjaga Martabat: Pelajaran dari UU Cipta Kerja dan Zaman Kejayaan

فايز

Hatched by فايز

May 30, 2026

7 min read

72%

0

Pertumbuhan yang Terlihat Maju, Tetapi Runtuh di Dalam

Apa gunanya sebuah negara terlihat sibuk membangun, jika orang-orang yang membuat pembangunan itu berjalan justru makin rapuh? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi di sanalah letak persoalan besar yang sering disembunyikan oleh kata-kata indah seperti efisiensi, iklim investasi, atau daya saing.

Di atas kertas, sebuah kebijakan bisa tampak seperti mesin pertumbuhan. Ia menjanjikan kemudahan, kecepatan, dan kepastian bagi modal. Namun pertanyaan yang lebih jujur selalu sama: siapa yang menanggung biayanya, dan siapa yang memanen hasilnya? Jika beban paling berat jatuh ke pekerja, sementara keuntungan terbesar mengalir ke pemodal, maka yang terjadi bukan pembangunan yang sehat, melainkan pertumbuhan yang pincang.

Di sinilah kita perlu berhenti memandang pembangunan hanya sebagai urusan angka makro. Kesejahteraan bukan bonus moral setelah pertumbuhan terjadi. Kesejahteraan adalah syarat agar pertumbuhan itu sendiri bertahan. Tanpa itu, sebuah sistem mungkin tampak hidup, tetapi sebenarnya sedang menggerogoti fondasinya sendiri.


Masalahnya Bukan Sekadar Aturan, Melainkan Arah Kekuasaan

Perdebatan tentang regulasi ketenagakerjaan sering dipersempit menjadi soal teknis: upah, cuti, fleksibilitas kontrak, atau prosedur usaha. Padahal inti persoalannya jauh lebih dalam, yaitu ke mana arah kekuasaan dalam perekonomian digerakkan. Apakah aturan dibuat untuk menyeimbangkan posisi tawar, atau justru untuk memperlebar jarak antara mereka yang memiliki modal dan mereka yang hanya memiliki tenaga?

Ketika pekerja merasa tetap berada dalam posisi subordinat, itu bukan sekadar keluhan emosional. Itu tanda bahwa relasi ekonomi masih disusun seperti tangga yang sangat curam. Satu kelompok diberi kelonggaran untuk bergerak cepat, sementara kelompok lain diminta menerima ketidakpastian sebagai harga dari modernisasi. Dalam jangka pendek, model seperti ini memang bisa menarik investasi. Tetapi dalam jangka panjang, ia berisiko menciptakan ekonomi yang murah bagi pemodal, mahal bagi masyarakat.

Bayangkan sebuah kapal yang ingin melaju lebih cepat dengan mengurangi berat di satu sisi, tetapi ternyata yang dikurangi justru pelampung. Kapal mungkin tampak lebih gesit, tetapi saat ombak datang, yang hilang pertama kali adalah daya tahan. Begitulah kebijakan yang hanya mengejar kemudahan bagi modal tanpa memastikan perlindungan yang memadai bagi buruh.

Persoalan cuti panjang, sistem pengupahan, dan lemahnya penegakan hukum bukan detail kecil. Semua itu adalah instrumen yang menentukan apakah pekerja diperlakukan sebagai subjek ekonomi atau sekadar komponen produksi. Jika perlindungan hanya ada di teks, tetapi tak hidup dalam praktik, maka hukum berubah menjadi dekorasi legitimasi.


Pelajaran Tersembunyi dari Zaman Kejayaan: Bukan Hanya Kekayaan, tetapi Keseimbangan

Ada kecenderungan untuk memandang kejayaan peradaban sebagai hasil dari satu faktor utama: pengetahuan, perdagangan, atau kekuatan politik. Padahal sejarah justru menunjukkan bahwa kejayaan yang tahan lama biasanya lahir dari ekosistem yang seimbang, bukan dari satu mesin tunggal yang dipaksa bekerja tanpa batas.

Jika kita menengok masa kejayaan suatu peradaban, yang sering menonjol bukan hanya kemajuan materialnya, tetapi juga kemampuannya mengelola keteraturan sosial. Ilmu berkembang karena ada ruang bagi pencarian. Perdagangan tumbuh karena ada kepercayaan. Institusi bertahan karena ada norma yang mengikat elite maupun rakyat. Dengan kata lain, kekayaan budaya dan ekonomi bukan sekadar hasil akumulasi modal, tetapi hasil dari tata kelola yang menjaga martabat manusia.

Ini penting karena kita sering salah membaca kejayaan. Kita mengira kejayaan identik dengan percepatan pertumbuhan. Padahal kejayaan sejati menuntut sesuatu yang lebih sulit: kemampuan membangun sistem yang tidak hanya produktif, tetapi juga adil. Tanpa keadilan, kejayaan menjadi semu. Ia bisa besar, tetapi rapuh. Ia bisa mengesankan, tetapi mudah patah ketika tekanan muncul.

Kejayaan bukan saat ekonomi paling cepat tumbuh, melainkan saat sebuah masyarakat paling mampu membuat pertumbuhan tidak menghancurkan orang-orang yang menopangnya.

Di sini kita melihat hubungan yang jarang disadari. Peradaban besar tidak tumbuh karena ia memuja efisiensi semata. Ia tumbuh karena ia tahu bahwa stabilitas moral adalah infrastruktur ekonomi. Bila pekerja diperas, kepercayaan menurun. Bila ketidakpastian dibiarkan, produktivitas jangka panjang ikut turun. Bila hukum lebih mudah dibaca sebagai alat kepentingan daripada pelindung keadilan, legitimasi perlahan terkikis.


Negara yang Mengutamakan Modal Saja Sedang Membeli Kecepatan dengan Menjual Ketahanan

Ada logika yang sangat menggoda dalam kebijakan ekonomi modern: jika kita mempermudah modal, lapangan kerja akan datang, lalu kesejahteraan akan mengikuti. Masalahnya, hubungan itu tidak otomatis. Investasi bisa masuk, tetapi kualitas kerja bisa memburuk. Ekonomi bisa tumbuh, tetapi rumah tangga pekerja bisa semakin rapuh. Statistik bisa membaik, tetapi rasa aman sosial bisa menurun.

Inilah paradoks yang sering luput. Pertumbuhan yang tidak dibagi secara adil bukan solusi, melainkan penundaan krisis. Saat upah tak memadai, perlindungan longgar, dan penegakan hukum lemah, biaya yang tidak dibayar hari ini akan muncul besok dalam bentuk konflik industrial, turunnya loyalitas, melemahnya konsumsi, dan ketidakpercayaan pada institusi.

Analogi yang lebih konkret: sebuah perusahaan bisa terlihat untung besar dengan memangkas semua biaya perlindungan pekerja. Tetapi jika pekerja sering sakit, turnover tinggi, kualitas turun, dan hubungan industrial memburuk, keuntungan itu hanyalah ilusi jangka pendek. Negara pun sama. Ia bisa tampak pro-investasi dengan memberi kelonggaran sebesar-besarnya, tetapi bila struktur kerja menjadi terlalu tidak aman, ia sedang menciptakan basis sosial yang lemah untuk pertumbuhan berikutnya.

Masalah utamanya, sekali lagi, bukan semata isi pasal. Masalah utamanya adalah siapa yang punya daya untuk memaknai, menegakkan, dan menolak penyimpangan dari aturan. Regulasi yang bagus tanpa penegakan yang adil sama seperti istana megah tanpa fondasi. Dari jauh tampak mengagumkan, tetapi dari dalam mudah retak.

Kebijakan ketenagakerjaan yang sehat seharusnya tidak bertanya, “Bagaimana membuat modal merasa paling nyaman?” Pertanyaan yang tepat adalah, “Bagaimana membuat produktivitas dan martabat berjalan bersama?” Bila pertanyaan awalnya salah, seluruh rancangan kebijakan akan condong ke arah yang salah pula.


Kerangka Baru: Tiga Lapisan Kejayaan yang Sering Dilupakan

Agar tidak terjebak dalam debat yang terus berulang antara pro pertumbuhan dan pro perlindungan, kita butuh kerangka yang lebih utuh. Salah satu cara memahaminya adalah melalui tiga lapisan kejayaan:

  1. Lapisan produksi: apakah ekonomi mampu menciptakan nilai, barang, jasa, dan pekerjaan?
  2. Lapisan distribusi: apakah nilai itu dibagi secara wajar sehingga para pelaku utama kehidupan ekonomi tetap bertahan dan berkembang?
  3. Lapisan legitimasi: apakah masyarakat merasa aturan yang berlaku adil sehingga mau terus mempercayai sistem?

Banyak kebijakan hanya berfokus pada lapisan pertama. Itu sebabnya mereka tampak berhasil di awal, tetapi gagal membangun ketahanan. Pekerja yang tidak terlindungi bisa tetap bekerja, perusahaan bisa tetap beroperasi, dan data investasi bisa tetap naik. Namun bila lapisan distribusi rapuh, lapisan legitimasi perlahan runtuh. Ketika legitimasi hilang, biaya sosial yang harus dibayar akan jauh lebih besar daripada keuntungan efisiensi yang semula dibanggakan.

Kerangka ini membantu menjelaskan mengapa pertumbuhan yang menyejahterakan bukan pertumbuhan yang paling agresif, melainkan pertumbuhan yang paling mampu menjaga tiga lapisan itu sekaligus. Negara yang bijak tidak memilih salah satu. Ia membangun keseimbangan.

Kebijakan yang baik bukan yang paling cepat memihak modal, melainkan yang paling lama mampu membuat semua pihak percaya bahwa permainan ini masih fair.

Di sinilah peran buruh menjadi sangat penting. Buruh bukan sekadar faktor biaya. Buruh adalah pembaca paling awal dari kesehatan moral sebuah ekonomi. Jika buruh merasa terus-menerus ditempatkan sebagai pihak yang bisa dikorbankan, itu tanda bahwa sistem sedang mengambil jalan pintas. Dan jalan pintas dalam ekonomi sering berakhir sebagai jalan buntu dalam sejarah.


Key Takeaways

  • Jangan menilai kebijakan hanya dari niat pertumbuhan. Tanyakan siapa yang menanggung risikonya dan siapa yang menikmati manfaatnya.
  • Lihat penegakan hukum sebagai inti, bukan pelengkap. Regulasi yang adil tanpa penegakan yang kuat hanya menciptakan ilusi perlindungan.
  • Ukurlah kesejahteraan sebagai fondasi produktivitas. Pekerja yang aman dan dihargai bukan beban, melainkan syarat ekonomi yang tahan lama.
  • Waspadai pertumbuhan yang membeli kecepatan dengan mengorbankan ketahanan. Keuntungan jangka pendek sering menyembunyikan biaya jangka panjang.
  • Nilai sistem dari legitimasi sosialnya. Jika masyarakat merasa aturan tidak fair, stabilitas ekonomi akan terus terkikis dari dalam.

Kita sering membayangkan pembangunan sebagai perlombaan mempercepat mesin ekonomi. Tetapi sejarah mengajarkan sesuatu yang lebih dalam: masyarakat paling kuat bukan yang paling cepat berlari, melainkan yang paling mampu menjaga manusianya tetap tegak saat berlari. Itulah perbedaan antara ekspansi dan kejayaan.

Jika sebuah kebijakan hanya memudahkan pemodal tanpa memperkuat posisi pekerja, maka yang dibangun bukan masa depan, melainkan ketimpangan yang dipoles. Sebaliknya, jika negara berani menempatkan martabat kerja sebagai pusat, maka investasi tidak lagi dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat untuk membangun peradaban yang lebih stabil dan lebih manusiawi.

Mungkin inilah pelajaran yang paling penting: kejayaan tidak pernah hanya soal berapa banyak yang masuk, tetapi juga tentang siapa yang dilindungi ketika pertumbuhan terjadi. Sebuah bangsa belum benar-benar maju jika ia bisa menarik modal, tetapi gagal menjaga harga diri orang-orang yang bekerja di dalamnya.

Pada akhirnya, pertanyaan paling jujur bukanlah, “Seberapa cepat ekonomi tumbuh?” melainkan, “Apakah pertumbuhan itu membuat kehidupan bersama makin layak, atau justru membuat sebagian besar orang hanya menjadi penonton di negeri sendiri?” Dari jawaban itulah kita bisa menilai apakah sebuah zaman sedang menuju kejayaan, atau hanya sedang menyamar sebagai kejayaan.

Sources

← Back to Library

Hatch New Ideas with Glasp AI 🐣

Glasp AI allows you to hatch new ideas based on your curated content. Let's curate and create with Glasp AI :)

Start Hatching 🐣