Ketika Kekuasaan Memakai Kekerasan dan Musik Memakai Kebohongan: Pelajaran tentang Ritme, Ingatan, dan Kendali
Hatched by فايز
Apr 24, 2026
8 min read
2 views
21%
Pembuka: Mengapa kekuasaan selalu butuh ritme?
Apa hubungan antara operasi militer, propaganda politik, dan lagu pop yang terdengar ringan di radio? Pertanyaan itu tampak ganjil, bahkan mungkin absurd. Tetapi di balik keduanya ada satu logika yang sama: siapa yang menguasai ritme, sering kali menguasai cara orang mengingat kenyataan.
Dalam sejarah konflik, kekerasan jarang berdiri sendiri. Ia hampir selalu berjalan bersama narasi, simbol, dan pengulangan. Satu pihak menembak, pihak lain membenarkan. Satu pihak memaksa, pihak lain menyusun cerita. Dan di antara suara ledakan dan suara penghiburan, ada pertarungan yang lebih dalam daripada sekadar perebutan wilayah, yaitu perebutan makna.
Di titik inilah kita bisa membaca tragedi politik dan sebuah lagu populer sebagai dua bentuk yang sangat berbeda dari praktik yang sama: menciptakan keteraturan palsu di atas kekacauan. Yang satu memakai senjata, yang lain memakai melodi. Yang satu memaksa tubuh, yang lain mempengaruhi ingatan. Keduanya mengajarkan bahwa manusia sering lebih mudah dikendalikan ketika mereka diberi ritme yang meyakinkan, meskipun ritme itu menyembunyikan luka.
Kekerasan tidak hanya menghancurkan, tetapi juga menyusun cerita
Setiap konflik besar melahirkan dua perang sekaligus. Perang pertama terjadi di lapangan: pendudukan, perlawanan, pembantaian, ketakutan. Perang kedua terjadi di dalam bahasa: siapa disebut pemberontak, siapa disebut pembela integrasi, siapa dianggap sah, siapa dianggap ancaman. Perang kedua ini sering lebih menentukan, karena ia memberi bingkai moral pada peristiwa yang brutal.
Dalam situasi seperti Operasi Seroja, kekuatan militer tidak hanya bergerak untuk menguasai teritori. Ia juga bergerak untuk mengendalikan definisi. Definisi tentang persatuan, separatisme, keamanan, loyalitas, bahkan tentang siapa yang dianggap korban dan siapa yang dianggap penyebab kekacauan. Ketika suatu pihak menyebut dirinya penjaga keutuhan, ia tidak sekadar sedang memilih kata. Ia sedang memproduksi legitimasi.
Di sinilah kekerasan menjadi lebih dari tindakan fisik. Ia menjadi teknologi naratif. Kekerasan memaksa tubuh diam, lalu narasi memaksa ingatan patuh. Pendukung lawan dapat dilabeli sebagai ancaman, dan pada saat yang sama, tindakan balasan dapat dikemas sebagai kebutuhan historis. Hasilnya adalah dunia moral yang dibelah, lalu disederhanakan sampai orang sulit melihat manusia di balik kategori.
Kekuasaan yang paling efektif bukan yang hanya mampu melukai tubuh, melainkan yang mampu membuat luka tampak seperti keniscayaan.
Ada alasan mengapa pembantaian, penangkapan, dan operasi militer sering disertai bahasa penyelamatan. Karena kekuasaan tahu bahwa masyarakat jarang dapat hidup lama dalam ketelanjangan brutal. Ia perlu cerita yang membuat kekerasan terasa masuk akal. Tanpa cerita, senjata hanya menimbulkan horor. Dengan cerita, senjata bisa disebut stabilitas.
Dari medan perang ke speaker radio: kontrol juga bekerja lewat pengulangan
Di permukaan, dunia militer dan dunia musik tampak tak mungkin bertemu. Yang satu kasar, yang lain lembut. Yang satu menguasai wilayah, yang lain mengisi ruang privat. Tetapi keduanya sama-sama bekerja lewat pengulangan yang menanamkan rasa akrab.
Pengulangan adalah alat paling tua dalam mengubah persepsi. Dalam perang, pengulangan hadir sebagai patroli, slogan, pernyataan resmi, dan cerita yang terus diulang sampai orang merasa itu satu-satunya realitas. Dalam musik populer, pengulangan hadir sebagai hook, refrain, motif ritmis, atau frase pendek yang terus kembali. Bedanya hanya pada tujuan dan konteks. Salah satunya dapat memaksa kepatuhan, yang lain dapat menciptakan keterikatan emosional.
Lagu seperti “Little Lies” memberi contoh yang menarik. Judulnya sendiri sudah mengandung paradoks: kebohongan yang kecil tampak tidak berbahaya, bahkan mungkin manis. Tetapi justru kebohongan kecil yang diulang terus sering paling berbahaya, karena ia tidak datang sebagai tragedi besar. Ia datang sebagai kebiasaan. Ia menenangkan. Ia mudah dinikmati. Ia menyelinap tanpa menimbulkan alarm.
Begitulah propaganda bekerja dalam bentuk paling efektifnya: bukan sebagai kebohongan besar yang mudah dibantah, melainkan sebagai serangkaian kebohongan kecil yang terasa wajar. Ia tidak selalu mengatakan, “Percayalah pada saya.” Ia lebih sering berkata, “Ini hanya sementara,” “Ini demi keamanan,” “Ini demi ketertiban,” “Ini tak terelakkan.” Seperti lagu yang enak di telinga, frasa-frasa itu masuk tanpa perlawanan, lalu menetap.
Kita sering mengira manipulasi terjadi melalui kebohongan yang spektakuler. Padahal manipulasi paling dalam justru terjadi melalui kebohongan yang bisa dihafal. Sesuatu yang cukup pendek untuk diulang, cukup sederhana untuk dipercaya, dan cukup familiar untuk tidak dipertanyakan.
Tiga lapis kendali: tubuh, emosi, dan ingatan
Untuk memahami kaitan antara kekerasan politik dan pengulangan budaya, berguna memakai satu kerangka sederhana: kendali bekerja pada tiga lapis.
1. Lapis tubuh
Di lapis ini, kekuasaan mengatur lewat rasa takut langsung. Penjagaan, patroli, serangan, penahanan, dan ancaman berfungsi membuat orang menyesuaikan diri. Tubuh tahu kapan harus diam, kapan harus lari, kapan harus menyembunyikan pandangan. Pada level ini, kekuasaan tidak butuh persetujuan. Ia hanya butuh kepatuhan.
2. Lapis emosi
Di lapis ini, kekuasaan tidak lagi sekadar menakuti, tetapi juga memengaruhi apa yang terasa normal. Orang mulai merasa bahwa hidup dalam kewaspadaan adalah kondisi biasa. Mereka menerima kecemasan sebagai latar hidup. Musik, slogan, pidato, dan ritual publik dapat bekerja di sini, bukan hanya sebagai hiburan atau informasi, tetapi sebagai mesin penenang.
3. Lapis ingatan
Ini lapis paling menentukan. Jika tubuh bisa dipaksa dan emosi bisa diarahkan, ingatan harus ditata agar masa lalu mendukung masa kini. Di sinilah konflik paling mematikan terjadi: siapa yang diperingati, siapa yang dilupakan, siapa yang disebut pengkhianat, siapa yang disebut pahlawan. Jika lapis ini berhasil dikuasai, generasi berikutnya mewarisi versi dunia yang sudah dipilihkan.
Kerangka ini membantu kita melihat mengapa tragedi politik dan budaya populer bukan dua dunia terpisah. Keduanya terhubung melalui cara manusia dibiasakan untuk menerima sesuatu sebagai normal. Dalam perang, normalitas itu diproduksi lewat kekuatan. Dalam budaya, normalitas itu diproduksi lewat repetisi yang menenangkan. Keduanya bisa bersekutu, dan keduanya sama-sama berbahaya ketika memadamkan kemampuan untuk bertanya.
Mengapa kebohongan kecil lebih tahan lama daripada kebenaran besar
Ada anggapan umum bahwa manusia akan menolak kebohongan jika kebohongan itu cukup besar. Kenyataannya sering sebaliknya. Kebohongan besar terlalu mencolok untuk dihadapi terus-menerus, sedangkan kebohongan kecil dapat hidup lama karena terasa masuk akal.
Kebohongan kecil tidak memaksa kita mengubah seluruh dunia sekaligus. Ia hanya meminta kita melonggarkan satu standar hari ini, lalu satu lagi besok. Dalam konteks politik, ini bisa berarti menerima narasi bahwa penghilangan nyawa adalah efek samping, bukan inti masalah. Dalam konteks relasi personal, ini bisa berarti memaafkan ketidakjujuran kecil sampai kejujuran menjadi tidak lagi diharapkan. Dalam konteks budaya, ini bisa berarti menikmati bentuk hiburan yang menormalkan kepalsuan sampai kita lupa membedakan pesona dari integritas.
Musik pop sangat piawai dalam menciptakan rasa akrab. Itu sebabnya ia kuat, tapi juga berisiko. Lagu yang terus diputar dapat menjadi ruang pelarian, tetapi juga dapat menjadi mekanisme pembiasaan. Kita tahu bagaimana nada tertentu bisa mengundang nostalgia, menutup ketegangan, bahkan membuat kita lupa bahwa di luar ruang dengar ada konflik yang belum selesai.
Di sisi lain, kekuasaan politik menyukai situasi ketika publik lelah. Orang yang lelah biasanya ingin narasi yang sederhana. Mereka ingin penjelasan yang ringkas, musuh yang jelas, dan akhir yang terasa rapi. Di situlah kebohongan kecil menjadi efektif. Ia tidak menuntut kita berpikir terlalu keras.
Kebohongan besar sering ditolak. Kebohongan kecil, bila diulang dengan nada yang tepat, bisa menjadi struktur mental sebuah masyarakat.
Ini bukan sekadar persoalan fakta. Ini persoalan kebiasaan persepsi. Kalau seseorang dibiasakan menerima pemolesan berulang, ia akan makin sulit membedakan antara ketenangan dan kebenaran. Dan bila itu terjadi, kekuasaan tidak perlu lagi bekerja keras. Orang akan mengawasi dirinya sendiri.
Apa yang bisa dilakukan ketika dunia dipenuhi narasi yang menenangkan
Jika kekerasan dan kebohongan sama-sama bisa bersembunyi di balik ritme, maka tantangan terbesar kita bukan hanya mencari informasi. Tantangannya adalah membangun imunitas terhadap kenyamanan palsu.
Imunitas ini tidak berarti sinis terhadap semua hal. Justru sebaliknya. Ia berarti belajar mendengar dengan dua telinga: satu untuk nada, satu untuk isi. Banyak pesan terdengar indah, tetapi menghapus korban. Banyak cerita terdengar tertib, tetapi menyembunyikan ketidakadilan. Banyak pernyataan terdengar patriotik, tetapi sesungguhnya hanya memindahkan rasa bersalah.
Kita perlu membiasakan diri bertanya beberapa hal sederhana namun tajam:
- Siapa yang diuntungkan jika peristiwa ini diceritakan dengan cara tertentu?
- Siapa yang hilang dari cerita ketika istilah seperti stabilitas, keamanan, atau persatuan dipakai?
- Apakah repetisi sedang dipakai untuk memperjelas kebenaran, atau untuk membuat kita lelah dan pasrah?
- Apakah sesuatu terlihat familiar karena benar, atau karena sering diulang?
Pertanyaan semacam ini penting karena banyak bentuk dominasi modern tidak lagi bergantung pada paksaan terbuka saja. Ia bergantung pada kemampuan membuat orang merasa bahwa mereka memahami situasi, padahal yang mereka pahami hanyalah versi yang sudah dipilihkan. Dalam politik, ini bisa berupa bahasa resmi yang menutupi kekerasan. Dalam budaya, ini bisa berupa hiburan yang menghaluskan kompleksitas menjadi rasa nyaman.
Kita juga perlu membedakan antara keteraturan dan ketertiban yang dipaksakan. Keteraturan yang sehat lahir dari kejelasan, keadilan, dan akuntabilitas. Ketertiban yang dipaksakan lahir dari ketakutan, sensor, dan pengulangan narasi tunggal. Keduanya sering tampak sama dari luar. Tetapi hanya yang pertama yang sanggup menampung kebenaran yang tidak nyaman.
Key Takeaways
- Waspadai ritme yang terlalu menenangkan. Pengulangan yang membuat sesuatu terasa akrab tidak otomatis membuatnya benar.
- Periksa bahasa yang membungkus kekerasan. Kata seperti keamanan, stabilitas, atau integrasi bisa dipakai untuk menutupi pelanggaran yang serius.
- Bedakan antara keteraturan dan kepatuhan. Sesuatu bisa tampak tertib namun sebenarnya dibangun di atas ketakutan.
- Latih diri membaca apa yang dihilangkan, bukan hanya apa yang dikatakan. Yang tidak disebut sering sama pentingnya dengan yang diumumkan.
- Jangan remehkan kebohongan kecil. Kebohongan yang tampak sepele, bila diulang, dapat membentuk kebiasaan berpikir dan merusak penilaian moral.
Penutup: Kebenaran sering kalah bukan karena lemah, tetapi karena tidak semenarik kepalsuan
Pelajaran terdalam dari pertemuan antara kekerasan politik dan kebohongan yang dibungkus indah adalah ini: manusia tidak hanya dikalahkan oleh senjata, tetapi juga oleh narasi yang membuat senjata tampak masuk akal. Dan manusia tidak hanya ditaklukkan oleh kebohongan besar, tetapi oleh kepalsuan kecil yang terdengar cukup nyaman untuk diterima berulang kali.
Maka tantangannya bukan sekadar menjadi lebih skeptis. Tantangannya adalah menjadi lebih peka terhadap cara dunia dibuat terasa normal. Karena sering kali, yang paling berbahaya bukan ledakan itu sendiri, melainkan saat kita mulai menganggap ledakan sebagai bagian biasa dari hidup. Bukan karena kita tidak tahu ada yang salah, tetapi karena ritme kekuasaan telah mengajari kita untuk berhenti terkejut.
Kebenaran jarang kalah dalam satu benturan besar. Ia lebih sering terkikis oleh pengulangan yang rapi, bahasa yang meyakinkan, dan kebiasaan menerima kebisingan sebagai penjelasan. Jadi, mungkin pertanyaan yang paling penting bukan lagi, “Siapa yang berkata benar?” melainkan, “Ritme seperti apa yang sedang membentuk cara kita percaya?”
Sources
Hatch New Ideas with Glasp AI 🐣
Glasp AI allows you to hatch new ideas based on your curated content. Let's curate and create with Glasp AI :)
Start Hatching 🐣